II. TINJAUAN PUSTAKA
Morfologi Ikan
Nila adalah memiliki bentuk yang pipih kea rah vertical (kompres), bertulang
belakang (vertebrata). Habitatnya perairan, bernafas dengtan insang dan menjaga
keseimbangan tubuh menggunakan sirip. Sirip-sirip tersebut bersifat
Poikilotermal (Dwisang, 2008).
Klasifikasi
ikan nila berdasarkan Suyanto (2003) adalah sebagai berikut :
Filum : Chordata
Sub-filum : Vertebrata
Kelas : Osteichthyes
Sub-kelas :Acanthoptherigii
Ordo : Percomorphi
Sub-ordo : Percoidea
Family : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis niloticus.
2.1.2 Morfologi
Ikan
nila mempunyai habitat ditawar, seperti sungai, danau, waduk dan rawa. Tetapi
karena toleransinya yang tinggi terhadap salinitas, maka ikan dapat hidup dan
berkembang biak di perairan payau dan laut. Salinitas yang disukai antara 0-35
ppt. Ikan nila yang masih kecil lebih tahan terhadap perubahan lingkungan
dibanding dengan ikan yang sudah besar (Widodo. 2004).
2.1.3 Habitat
Kualitas air yang sesuai dengan habitat ikan nila adalah pH
optimal antara 7-8, suhu optimal antara 25-30ºC, dan salinitas0-35 ppt, amoniak
antara 0-2,4 ppm, dan DO berkisar antara 3-5 ppm Ikan nila merupakan ikan
konsumsi yang umum hidup di perairan tawar, terkadang ikan nila juga ditemukan
hidup di perairan yang agak asin (payau). Ikan nila dikenal sebagai ikan yang dapat
hidup pada kisaran salinitas yang lebar. Ikan nila mendiami berbagai habitat
air tawar, termasuk saluran air yang dangkal,kolam, sungai dan danau. Ikan nila
dapat menjadi masalah sebagai spesies invasif pada habitat perairan hangat,
tetapi sebaliknya pada daerah beriklim sedang karena ketidakmampuan ikan nila
untuk bertahan hidup di perairan dingin, yang umumnya bersuhu di bawah 21 ° C
(Harrysu, 2012).
Menurut
(Harmita, 2009).Ikan Nila termasuk campuran ikan pemakan
campuran (omnivora). Ikan nila mempunyai kemampuan tumbuh
secara normal pada kisaran suhu 14-38°C dengan suhu optimum bagi pertumbuhan
dan perkembangannya yaitu 25-30°C. Pada suhu 14°C atau pada suhu tinggi 38°C pertumbuhan ikan nila akan terganggu.
Pada suhu 6°C atau 42°C ikan nila akan mengalami kematian. Kandungan oksigen
yang baik bagi 4 pertumbuhan ikan nila minimal 4mg/L, kandungan
karbondioksida kurang dari 5mg/L dengan derajat keasaman (pH) berkisar 5-9.
Menurut Santoso (1996), pH optimum bagi pertumbuhan nila yaitu antara 7-8 dan warna di
sekujur tubuh ikan dipengaruhi lingkungan hidupnya. Bila dibudidayakan di
jaring terapung (perairan dalam) warna ikan lebih hitam atau gelap dibandingkan
dengan ikan yang dibudidayakan di kolam (perairan dangkal). Pada perairan alam
dan dalam sistem pemeliharaan ikan,konsentrasi karbondioksida diperlukan untuk
proses fotosintesis oleh tanaman air. Nilai CO2ditentukan antara lain oleh pH
dan suhu. Jumlah CO2di dalam perairan yang bertambah akan menekan
aktivitaspernapasan ikan dan menghambat pengikatan oksigen oleh hemoglobin
sehingga dapat membuat ikan menjadi stress. Kandungan CO2 dalam air untuk
kegiatan pembesaran nila sebaiknya kurang dari 15 mg/liter (Dahuri, 2006)
2.2 Variabel Lingkungan
2.2.1 Suhu
Pengaruh suhu secara tidak langsung dapat menentukan
stratifikasi massa air, stratifikasi suhu di suatu perairan ditentukan oleh
keadaan cuaca dan sifat setiap perairan seperti pergantian pemanasan dan
pengadukan, pemasukan atau pengeluaran air, bentuk dan ukuran suatu perairan.
Suhu air yang layak untuk budidaya ikan laut adalah 27–32 oC. Kenaikan suhu
perairan juga menurunkan kelarutan oksigen dalam air, memberikan pengaruh
langsung terhadap aktivitas ikan disamping akan menaikkan daya racun suatu
polutan terhadap organisme perairan (Brown dan Gratzek, 1980).
Selanjutnya Kinne (1972) menyatakan bahwa suhu air
berkisar antara 35 – 40°C merupakan suhu kritis bagi kehidupan organisme yang
dapat menyebabkan kematian. Perbedaan suhu air media dengan tubuh ikan akan
menimbulkan gangguan metabolisme. Kondisi ini dapat mengakibatkan sebagian
besar energy yang tersimpan dalam tubuh ikan digunakan untuk penyesuian diri
terhadap lingkungan yang kurang mendukung tersebut, sehingga dapat merusak
sistem metabolisme atau pertukaran zat. Hal ini dapat mengganggu pertumbuhan
ikan karena gangguan sistem percernaan. Suhu air mempunyai pengaruh besar
terhadap pertukaran zat atau metabolisme mahkluk hidup di perairan. Oleh karena
itu peningkatan suhu lebih tinggi dapat menghambat pertumbuhan dan menyebabkan
tingginya mortalitas ikan (Asmawi, 1983).
2.2.2 Ph
pH
adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau
kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Ia didefinisikan sebagai kologaritma
aktivitas ion hidrogen (HKoefisien aktivitas ion hidrogen tidak dapat diukur
secara eksperimental, sehingga nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis.
Skala pH bukanlah skala absolut. Ia bersifat relatif terhadap sekumpulan
larutan standar yang pH-nya ditentukan berdasarkan persetujuan internasional
yang terlarut (Gautam. 2005)
2.2.3 Survaktan
Surfaktan
merupakan suatu molekul yang sekaligus memiliki gugus hidrofilik dan gugus
lipofilik sehingga dapat mempersatukan campuran yang terdiri dari air dan
minyak. Surfaktan adalah bahan aktif permukaan. Aktifitas surfaktan diperoleh
karena sifat ganda dari molekulnya. Molekul surfaktan memiliki bagian polar
yang suka akan air (hidrofilik) dan bagian non polar yang suka akan
minyak/lemak (lipofilik). Bagian polar molekul surfaktan dapat bermuatan
positif, negatif atau netral. Sifat rangkap ini yang menyebabkan surfaktan
dapat diadsorbsipada antar muka udara-air, minyak-air dan zat padat-air,
membentuk lapisan tunggal dimana gugus hidrofilik berada pada fase air dan rantai
hidrokarbon ke udara, dalam kontak dengan zat padat ataupun terendam dalam fase
minyak. Umumnya bagian non polar (lipofilik) adalah merupakan rantai alkil yang
panjang, sementara bagianyang polar (hidrofilik) mengandung gugus hidroksil.
(Jatmika, 1998)
Komentar
Posting Komentar